300 Redkar Dipersiapkan Jadi Pelindung Kampung dari Ancaman Kebakaran
POSKOTAKALTIMNES, BERAU : Melalui pembentukan Relawan Pemadam Kebakaran (Redkar), Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Disdamkarmat) Berau menyiapkan sekitar 300an relawan sebagai garda terdepan penanganan awal kebakaran. Mereka ini nantinya akan disebar di berbagai Kecamatan, diproyeksikan menjadi unit respons cepat sebelum petugas Damkar tiba di lokasi.
Namun para relawan
ini sejatinya masih dalam tahap awal. Mereka telah direkrut, tetapi belum
sepenuhnya siap untuk diterjunkan. Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik
Disdamkarmat Berau, Nofian Hidayat, menyebutkan bahwa seluruh relawan saat ini
masih menunggu proses lanjutan berupa pengukuhan, penerbitan surat keputusan
(SK), hingga pelatihan dasar.
“Untuk jumlahnya
hampir 300 orang dan sudah tersebar di seluruh Kecamatan. Tapi memang masih
tahap administrasi, belum dikukuhkan, belum ada SK, dan belum dilatih,”
ujarnya.
Kondisi ini menjadi
tantangan tersendiri. Di satu sisi, kebutuhan akan respons cepat di lapangan
sangat mendesak, di sisi lain kesiapan sumber daya manusia tetap harus melalui
tahapan yang tidak bisa diabaikan, terutama menyangkut keselamatan.
Nofian menegaskan,
sebelum benar-benar terlibat dalam penanganan kebakaran, para relawan wajib
mendapatkan hak-haknya terlebih dahulu. Hal ini mencakup pelatihan teknis,
penyediaan alat pelindung diri (APD), hingga jaminan keselamatan kerja.
Menurutnya, peran
relawan bukanlah pekerjaan ringan. Risiko yang dihadapi sama besarnya dengan
petugas pemadam kebakaran, sehingga aspek perlindungan menjadi hal utama.
“Kami perlu tegaskan di
sini keberadaan mereka harus dibekali dulu. Ada hak untuk pelatihan, APD, dan
jaminan keselamatan. Tapi memang tidak ada gaji karena sifatnya relawan,”
jelasnya.
Di tengah
keterbatasan tersebut, tingginya antusiasme masyarakat justru menjadi modal
besar. Ratusan warga yang mendaftar menjadi relawan menunjukkan adanya
kesadaran kolektif untuk terlibat dalam penanggulangan bencana di lingkungan
masing-masing.
Bagi Disdamkarmat,
ini bukan sekadar menambah jumlah personel, tetapi juga membangun budaya siaga
kebakaran dari tingkat paling bawah. Relawan diharapkan tidak hanya bertugas
saat terjadi kebakaran, tetapi juga menjadi agen edukasi bagi masyarakat sekitar.
Mereka akan berperan
dalam memberikan pemahaman tentang bahaya kebakaran, langkah pencegahan, hingga
tindakan awal yang bisa dilakukan sebelum api membesar. Untuk memperkuat
jaringan ini, proses rekrutmen terus dibuka. Sosialisasi dilakukan secara masif
hingga ke kampung-kampung dan kecamatan. Bahkan, sistem pendaftaran kini dibuat
lebih mudah agar dapat menjangkau lebih banyak masyarakat.
“Rekrutmen masih
berjalan terus. Kami turun langsung ke kampung, kecamatan, dan kelurahan.
Sekarang juga sudah bisa daftar secara online atau melalui pemerintah
setempat,” kata Nofian.
Ke depan, Redkar akan
difokuskan sebagai unit respons cepat berbasis wilayah. Dengan keberadaan
mereka yang lebih dekat dengan titik-titik rawan, diharapkan penanganan awal
bisa dilakukan lebih cepat dan risiko kebakaran dapat ditekan. Langkah ini juga
menjadi jawaban atas tantangan geografis Berau yang luas, di mana tidak semua
wilayah dapat dijangkau dengan cepat oleh armada pemadam kebakaran.
Di tengah kondisi
tersebut, kehadiran relawan menjadi jembatan penting antara masyarakat dan
layanan darurat. Meski masih dalam tahap pembentukan, harapan terhadap Redkar
cukup besar. Jika seluruh proses pembekalan dan penguatan berjalan optimal,
bukan tidak mungkin setiap kampung di Berau memiliki “penjaga pertama” yang
siap bergerak saat kebakaran terjadi.
Pada akhirnya, upaya
ini bukan hanya tentang memadamkan api, tetapi juga membangun kesadaran bahwa
keselamatan lingkungan adalah tanggung jawab bersama. Di tangan para relawan
inilah, harapan itu perlahan dibangun dari kampung, oleh masyarakat, untuk melindungi
sesama. (sep/FN)